KEKUATAN MARITIM
KERAJAAN SRIWIJAYA
PENDAHULUAN
Sriwijaya
adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatra dan
banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta
membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa
Barat dan kemungkinan Jawa Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti
"bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti
"kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna
"kemenangan yang gilang-gemilang".
Kerajaan
Sriwijaya adalah salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah
Indonesia, tetapi dikenal di setiap bangsa atau negara yang berada jauh di luar
Indonesia. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis
dan dekat dengan Selat Malaka. Telah kita ketahui, Selat Malaka pada saat itu
adalah jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubungkan antara
pedagang-pedagang dari Cina dengan India atau Romawi. Dari tepian Sungai Musi
di Sumatra Selatan, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas yang mencakup
Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa bagian barat, Bangka, Jambi
Hulu, dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara), Semenanjung Malaya hingga ke
Tanah Genting Kra. Luasnya wilayah laut yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya
menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar pada zamannya.
Kehidupan
Sosial Kerajaan Sriwijaya. Karena letaknya yang strategis, perkembangan
perdagangan internasional di Sriwijaya sangat baik. Dengan banyaknya pedagang
yang singgah di Sriwijaya memungkinkan masyarakatnya berkomunikasi dengan
mereka, sehingga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi masyarakat
Sriwijaya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa
pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan
Semenanjung Malaysia.Perdagangan internasional ini juga membuat kecenderungan
masyarakat menjadi terbuka akan berbagai pengaruh dan budaya asing, salah
satunya India. Budaya India yang masuk berupa penggunaan nama-nama khas India,
adat istiadat, dan juga agama Hindu-Buddha. I-tsing menerangkan bahwa banyak
pendeta yang datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan menyalin
kitab kitab suci agama Buddha. Guru besar yang sangat terkenal di massa itu
adalah Sakyakirti yang mengarang buku Hastadandasastra.
Kehidupan ekonomi Kerajaan Sriwijaya
pada awalnya bertumpu pada bidang pertanian. Namun dikarenakan letaknya yang
strategis, yaitu di persimpangan jalur perdagangan internasional, membuat hasil
bumi menjadi modal utama untuk memulai kegiatan perdagangan dan pelayaran.
Karena letak yang strategis pula, para pedagang China yang akan ke India
bongkarmuat di Sriwijaya, dan begitu juga dengan pedagang India yang akan ke
China. Dengan demikian pelabuhan Sriwijaya semakin ramai hingga Sriwijaya
menjadi pusat perdagangan se-Asia Tenggara. Perairan di Laut Natuna, Selat
Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Kehidupan
Politik Kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari raja-raja yang memerintah,
wilayah kekuasaan, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.
a. Raja yang memerintah (yang terkenal)
1) DapuntaHyang
SriJayanasa
2) Balaputera
Dewa
3) Sri
Sanggarama Wijayatunggawarman
b. Wilayah kekuasaan
Setelah
berhasil menguasai Palembang, ibu kota
Kerajaan Sriwijaya dipindahakan dari Muara Takus ke Palembang. Dari
Palembang, Kerajaan Sriwijaya dengan mudah dapat menguasai daerah-daerah di
sekitarnya seperti Pulau Bangka yang terletak di pertemuan jalan perdagangan
internasional, Jambi Hulu yang terletak di tepi Sungai Batanghari dan mungkin
juga Jawa Barat (Tarumanegara). Maka dalam abad ke-7 M, Kerajaan Sriwijaya
telah berhasil menguasai kunci-kunci jalan perdagangan yang penting seperti
Selat Sunda, Selat Bangka, Selat Malaka, dan Laut Jawa bagian barat.
Pada
abad ke-8 M, perluasan Kerajaan Sriwijaya ditujukan ke arah utara, yaitu
menduduki Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Pendudukan pada daerah
Semenanjung Malaya memiliki tujuan untuk menguasai daerah penghasil lada dan
timah. Sedangkan pendudukan pada daerah Tanah Genting Kra memiliki tujuan untuk
menguasai lintas jalur perdagangan antara Cina dan India. Tanah Genting Kra
sering dipergunakan oleh para pedagang untuk menyeberang dari perairan Lautan
Hindia ke Laut Cina Selatan, untuk menghindari persinggahan di pusat Kerajaan
Sriwijaya.
Daerah
lain yang menjadi kekuasaan Sriwijaya diantaranya Tulang-Bawang yang terletak
di daerah Lampung dan daerah Kedah yang terletak di pantai barat Semenanjung
Melayu untuk mengembangkan usaha perdagagan dengan India. Selain itu, diketahui
pula berdasar berita dari China, Sriwijaya menggusur kerajaan Kaling agar dapat
mengusai pantai utara Jawa sebab adalah jalur perdagangan yang penting.
Pada
akhir abad ke-8 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai seluruh jalur
perdagangan di Asia Tenggara, baik yang melalui Selat Malaka, Selat Karimata,
dan Tanah Genting Kra. Dengan kekuasaan wilayah itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi
kerajaan laut terbesar di seluruh Asia Tenggara.
c. Hubungan dengan luar negeri
Kerajaan
Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar wilayah
Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti
Kerajaan Pala atau Nalanda di Benggala. Raja Nalanda, Dewapala Dewa menghadiahi
sebidang tanah untuk pembuatan asrama bagi pelajar dari nusantara yang ingin
menjadi ‘dharma’ yang dibiayai oleh Balaputradewa.
RUMUSAN
MASALAH
1. Siapa
raja yang berperan dalam pertumbuhan kekuatan maritime Sriwijaya?
2. Apa
tujuan penaklukan wilayah bagi Sriwijaya?
3. Bagaimana
Sriwijaya mampu mengembangkan maritime?
PEMBAHASAN
Kerajaan Maritim
Ciri-ciri
kerajaan maritim:
·
Mempunyai
struktur politik yang bersifat integratif, mengikat pulau dan daerah lain di
sekitarnya ke dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih besar.
·
Memiliki armada
laut yang tangguh, baik armada perang maupun armada dagang.
Kekuasaan
untuk mengontrol kerajaan-kerajaan kecil oleh pusat kekuasaan/kerajaan yang
lebih besar dapat berlangsung selama hubungan pusat-daerah saling memberikan
keuntungan. Keuntungan bagi kekuasaan pusat yaitu pengakuan simbolik berupa
kesetiaan dan memperoleh upeti berupa barang-barang mewah atau hasil-hasil yang
dapat diperdagangkan. Sebaliknya kerajaan kecil memperoleh keuntungan berupa adanya perlindungan dan prestise atas hubungan
tersebut.
Keberhasilan
dalam aktivitas perdagangan dapat memperluas kekuasaan. Kegiatan perdagangan di
samping membuka kesempatan untuk memasarkan hasil-hasil dari daerahnya sendiri
untuk dipertukarkan dengan barang kebutuhan yang diperlukannya, juga memberi
pemasukan dari ongkos, sewa, upeti kepala kerajaan. Dengan menguasai kegiatan
perdagangan di pelabuhan,kerajaan dapat memperoleh kejayaan. Untuk memperbesar
kejayaannya, kerajaan-kerajaan maritime melakukan ekspansi atas wilayah yang
lebih luas.
Sriwijaya : Kerajaan
Maritim Pertama di Indonesia
Kerajaan
Sriwijaya adalah kerajaan yang ibukotanya terletak di tepi air sehingga disebut
kerajaan pantai, negara perniagaan dan Negara yang berkuasa di tepi laut. Penduduk
Sriwijaya terpencar diluar ibukota atau tinggal di atas rakit-rakit yang
beratapkan alang-alang. Jika sang raja keluar, ia naik perahu dengan diiringi
orang-orang yang bertombak emas. Tentara kerajaan Sriwijaya sangat tangkas
dalam peperangan, baik didarat maupun di laut, keberaniannya tidak ada
tandingannya. Menurut Macintyre bahwa warga Negara Sriwijaya merupakan
komunitas yang termiliterisir (militarized community).
Struktur
kerajaan maritim Sriwijaya menurut Kenneth R.Hall :
1. Raja Sriwijaya
adalah seorang kepala suku Melayu atau datu yang mampu mengadakan aliansi
dengan kepala-kepala suku lain di pedalaman dan menjadi terbesar di antara
mereka. Hasil
dari aliansi ini raja Sriwijaya memperoleh pasokan produk hasil hutan, hewan
langka, dan emas yang sangat termashur- dari sini pulau Sumatra mendapat nama Suwarnabhumi. Sebagai imbalan para datu
memperoleh komoditi dari negeri luar seperti India, Cina, dan negara-negara
Asia Tenggara lain yang mendatangi pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Dari para
datu dapat diminta dukungan tenaga prajurit atau bala bantuan perang.
2. Raja
Sriwijaya mampu untuk “menjinakkan” suku-suku laut dan pelaut-pelaut Melayu
yang mengembara dan menguasai pantai timur pulau Sumatra dan Selat Malaka.
Semula mereka adalah pengembara dan perompak, tetapi oleh penguasa Sriwijaya
mereka dijadikan armada dagang dengan bendera kerajaan Sriwijaya yang penuh
keagungan. Mereka memperoleh imbalan berupa pembagian keuntungan dagang atau
hasil rampasan perang. Ini adalah modal awal kerajaan Sriwijaya yang telah
mampu menggiring kapal-kapal niaga ke pelabuhan Sriwijaya.
Faktor utama penyebab kejayaan kerajaan
Sriwijaya, yaitu kemampuannya untuk mengendalikan dan menguasai Selat Malaka,
paling sedikit selama tujuh abad mempunyai arti penting dalam sejarah dan
merupakan jalur perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan
Eropa. Dengan kata lain bahawa selama masa kejayannya, Sriwijaya merupakan
pusat perdagangan penting yang pertama di Selat Malaka , bahkan sebagai
kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Kehidupan
Politik Kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari raja-raja yang memerintah,
wilayah kekuasaan, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.
Raja yang memerintah:
1)
Dapunta Hyang SriJayanasa
Beliau
adalah pendiri kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahannya, dia berhasil
memperluas wilayah kekuasaan sampai wilayah Jambi dengan menduduki daerah
Minangatamwan yang terletak di dekat jalur perhubungan pelayaran perdagangan di
Selat Malaka. Sejak awal dia telah mencita-citakan agar Sriwijaya menjadi
kerajaan maritim.
2)
Balaputera Dewa
Awalnya,
Balaputra dewa adalah raja di Kerajaan Syailendra. Ketika terjadi perang
saudara antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh
Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Akibatnya
dia lari ke Kerajaan Sriwijaya, dimana Raja Dharma Setru (kakak dari ibu Raja
Balaputra Dewa) tengah berkuasa. Karena dia tak mempunyai keturunan, dia
mengangkat Balaputradewa sebagi raja. Masa pemerintahan Balaputradewa
diperkirakan dimulai pada tahun 850 M. Sriwijaya mengalami perkembangan pesat
dengan meingkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat. Pada masa
pemerintahannya pula, Sriwijaya mengadakan hubungan dengan Kerajaan Chola dan
Benggala (Nalanda) dalam bidang pengembangan agama Buddha, bahkan menjadi pusat
penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
Politik ekspansi dilakukan Sriwijaya
pada abad ke-7, yaitu pada tahun 690. hal ini dibuktikan pada prasati Kedukan
Bukit (dekat Palembang) yang berangka tahun 608 M yang ditulis dengan huruf
Pallawa dalam bahasa Melayu kuna. Arti prasati Kedukan Bukit yang berbahasa
Melayu Kuna sebagai berikut:
Kemakmuran! Keberuntungan! Pada
tahun Saka 605, hari kesebelas paruh terang bulan Waisakha, Sri Baginda
(Dapunta Hyang) naik kapal untuk mencri kesaktian. Hari ketujuh paruh terang
Jyestha, raja membebaskan diri (.....). ia memimpin bala tentara yang terdiri
dari dua puluh ribu (orang); pengikut (.....) sejumlah dua ratus orang
menggunakan perahu, pengikut yang berjalan kaki sejumlah seribu tiga ratus dua
belas orang tiga tiba di hadapan (raja), bersama-sama dengan sukacitanya. Hari
kelima paruh terang bulan (.....), ringan, gembira, datang dan membuat
negeri(.....) Sriwijaya, sakti,kaya (.....).
Menurut Boechori prasasti ini
digunakan untuk memperingati usaha penaklukan daerah sekitar Palembang oleh
Dapunta Hyang dan pendirian ibukota baru yang kedua di tempat ini. Dari
beberapa prasasti lainnya yang ditemukan juga menunjukkan bahwa Sriwijaya telah
meluaskan wilayah kekuasaannya mulai dari daerah Melayu di sekitar Jambi
sekarang sampai di pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan dalam tahun 686,
serta usaha menaklukan pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang
pelayaran dan perdagangan. Penaklukan pulau Bangka diduga erat berhubungan
dengan penguasaan perdagangan dan pelayaran internasional di Selat Malaka.
Dengan dikuasanya negara di sekitar Pulau Bangka, maka Sriwijaya sepenuhnya
dapat menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan dari negara-negara Barat
ke Cina. Sebaliknya, perahu-perahu asing terpaksa harus berlayar melalui Selat
Malaka dan Selat Bangka yang dikuasai oleh Sriwijaya. Keuntungan Sriwijaya dari
perahu asing berlimpah-limpah. Kecuali kentungan dari penarikan bea-cukai,
Sriwijaya masih memperoleh keuntungan lain dari perdagangan. Dari berita yang
ditulis I-tsing dapat diketahui bahwa kapal-kapal asing itu datang dari Kedah
dan Melayu padawaktu-waktu tertentu. Mereka tinggal di kedua tempat itu selama
menunggu datangnya angin baik (buritan). Selama tinggal di pelabuhan,
kapal-kapal dagang itu berkesempatan membongkar dan memuat barang-barang
dagangan. Sementara itu dari daerah Sriwijaya sendiri dihasilkan penyu, gading,
emas, perak, kemeyan, kapur barus, damar, lada,dan lain-lain. Barang dagangan
tersebut dibeli oleh pedagang asing atau ditukar dengan porselin, kain katun,
dan kain sutera.
Sebagai
kerajaan maritim, Sriwijaya menggunakan politik laut yaitu dengan mewajibkan
kapal-kapal untuk singgah di pelabuhannya. Politik Sriwijaya ini dikenal dengan
menggunakan model “paksaan menimbun barang”. Di samping itu raja Sriwijaya juga
mempunyai kapal-kapal sendiri. Dengan demikian maka harta benda raja serta kaum
bangsawan berasal dari : perdagangan sendiri, bea-bea yang dipungut dari
perdagangan melalui kerajaan, rampasan hasil peperangan, dan pembajakan laut.Pada
abad ke-13 Sriwijaya masih cukup kuat sebagai kerajaan maritim. Hal ini
dibuktikan dengan adanya buku “Chu-fan-chi” yang ditulis tahun1225 oleh
Chau-ju-kua. Buku ini memceritakan bahwa di Asia Tenggara ada dua kerajaan yang
terkemuka dan kaya, pertama ialah Jawa dan yang kedua adalah Sriwijaya.
Sumber-sumber
ekonomi kerajaan Sriwijaya berasal dari pelayaran dan perdagangan, menjadi
semakin jelas bahwa kerajaan itu memang kerajaan maritim. Sedangkan dari
politik, ekspansi Sriwijaya yang berhasil menguasai kerajaan-kerajaan atau
kota-kota pelabuhan di sekitarnya juga semakin menunjukkan adanya kecenderungan
itu. Pada sisi yang lain, kekuasaan Sriwijaya yang berlangsung cukup lama bisa
dianggap sebagai proses integrasi secara ekonomi dan politik.
Perkembangan Budaya Maritim
·
Angkatan laut
Armada atau angkatan
laut adalah salah satu kekuatan inti dalam kerajaan Maritim. Hal ini karena
dengan angkatan laut yang kuat maka akan dapat menjamin stabilitas dan
kelanggengan suatu kerajaan, begitu pula sebaliknya. Pada kerajaan Sriwijaya
misalnya, kuatnya angkatan laut membuat terciptanya ketentraman perdagangan
dalam masyarakat. Keberadaan angkatan laut pada kerajaan Sriwijaya digunakan
untuk melindungi jalur perniagaan terhadap ancaman bajak laut yang berasal dari
Cina, Malaya, bagian Nusantara lainnya, dan Filiphina.
Dalam struktur
pemerintahan Sriwijaya, posos laksamana angkatan laut kerajaan langsung berada
di bawah raja sebagai penguasa tertinggi. Laksamana angkatan laut merupakan
pejabat kemiliteran yang sangat penting,kedudukan laksamana angkatan laut
sejajar denga patih (mangkubumi). Tugas utamanya adalah menjaga keutuhan
wilayah dan mejaga kepentingan-kepentingan Sriwijaya di bidang perdagangan.
Angakatan laut Sriwijaya sering melakukan ekspedisi ke tempat-tempat yang jauh
dan melakukan patroli keamanan di wilayahnya. Secara rutin angkatan laut
Sriwijaya juga melakukan perjalanan jauh dan menjadikan daerah tak bertuan
menjadi bagian dari Sriwijaya. Berkat bantuang angakatn laut ini terselenggara
keamanan di Asia Tenggara. Dampak yang lain adalah kekuasaan Sriwijaya semakin
luas dan sangat berwibawa di mata saingannya.
Kapal-kapal perang
Sriwijaya dibuat dari kayu yang tua dan keras supaya tercipta angkatan laut
yang kuat. Kapal-kapal itu dapat bergerak dengan layar, serta dapat pula
didayung dengan cepat. Persenjataan kapal perang Sriwijaya adalah panah,
tombak, parang dan pedang.
Semakin ramainya perdagangan membuat
Sriwijaya harus menempatkan pangkalan disentral-sentral perdagangan seperti di
Jambi, Kepulauan Riau, Semenanjung Melayu, dan pantai Sumatera Utara. Di
pangkalan itu ditempatkan bebrapa kaal perang yang dilengkapi dengan senjata
dan prajurit-prajurit.
PENUTUP
Sriwijaya
merupakan kerajaan terbesar sebelum Majapahit, wilayahnya hampir meliputi
nusantara. Keberhasilan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah melalui
aktivitas perdagangan dan berhasil memperluas kekuasaan. Letaknya yang berada
ditepi laut banyak membuat para pedagang berlabuh. Selain perdagangan yang
kuat, Sriwijaya juga memiliki armada laut yang sangat kuat. Dengan adanya
armada laut ini Sriwijaya berhasil menjinakkan suku suku laut dan para pelaut
yang awalnya adalah perompak hingga akhirnya dijadikan oleh Sriwijaya bagian
dari armada laut mereka.
Sebagai
sebuah kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya menggunakan politik laut yaitu
mewajibkan kapal-kapal untuk singgah dipelabuhannya. Politil inilah yang
dikenal dengan “paksaan menimbun barang”.
Dari politik inilah sebagian harta raja dan para bangsawan berasal.
Sriwijaya dalam memperluas kekuasaannya juga melakukan ekspansi hingga ke pulau
Jawa yang selalu menjadi pesaing dalam perdagangan dan pelayaran. Melalui
ekspansi Sriwijaya dapat menguasai kerajaan-kerajaan kecil serta kota-kota
pelabuhan hal ini tentu memperkuat Sriwijaya dan eksistensinya sebagai kerajaan
maritim. Bahkan, ekspansi ini dibuktikan pada prasasti Kedukan Bukit di tahun
608 M yang berada di dekat Palembang.
Sriwijaya
juga mengalami perkembangan budaya maritim yang pesat. Angkatan laut merupakan
salah satu faktor pendorong budaya maritim berkembang di Sriwijaya. Bahkan dalam struktur pemerintahannya,
Sriwijaya mengangkat posos laksamana angkatan laut sebagai penguasa tertinggi
di bawah raja. Berkat angkatan laut Sriwijaya inj juga keamanan laut Asia
Tenggara terjamin.
Jadi,
faktor utama Sriwijaya menjadi kerajaan maritim terbesar adalah kemampuannya
dalam mengendalikan dan menguasai Selat Malaka yang merupakan jalur penting dan
juga jalur perdagangan internasional. Melalui politik ekspansi juga Sriwijaya
menguatkan kerajaannya untuk itu Sriwijaya tidak hanya menjadi kerajaan maritim
terbesar di nusantara tapi bahkan menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia
Tenggara.
DAFTAR PUSTAKA
1
Suroyo, Djuliati
A.M. dkk. 2007. Sejarah Maritim Indonesia
1. Semarang : Penerbit Jeda.
2
Wolter, O.W. 2011. Kemaharajaan
Maritim Sriwijaya & Perniagaan Dunia Abad III – Abad VII. Jakarta: Komunitas Bambu.
3
Achadiyati,Y.
(ed.). Sejarah Peradaban Manusia Zaman
Sriwijaya. Jakarta : Gita Karya.
4
Sartika Intaing
Pradhani. 2017. Sejarah Hukum Maritim
Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit Dalam Hukum Indonesia Kini. Lembaran
Sejarah Vol. 13 No. 2 Tahun 2017.
5
Soekmono, R.
1992. Pengantar Sejarah Kebudayaan
Indonesia Jilid II. Jakarta :
Yayasan Kanisius.
6
Kabib Sholeh.
2017. Prasasti Talang Tuo Peninggalan
Kerajaan Sriwijaya Sebagai Materi Ajar Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah
Atas. Jurnal Historia Vol. 5 No. 2 Tahun 2017.
7
Hamid,
Abdurahman. 2013. Sejarah Maritim
Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
No comments:
Post a Comment