Tuesday, June 23, 2020

KERAJAAN SRIWIJAYA sebagai KEKUATAN MARITIM


KEKUATAN MARITIM
KERAJAAN SRIWIJAYA

    PENDAHULUAN
Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatra dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang".
Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah Indonesia, tetapi dikenal di setiap bangsa atau negara yang berada jauh di luar Indonesia. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan Selat Malaka. Telah kita ketahui, Selat Malaka pada saat itu adalah jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubungkan antara pedagang-pedagang dari Cina dengan India atau Romawi. Dari tepian Sungai Musi di Sumatra Selatan, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas yang mencakup Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa bagian barat, Bangka, Jambi Hulu, dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara), Semenanjung Malaya hingga ke Tanah Genting Kra. Luasnya wilayah laut yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar pada zamannya.
Kehidupan Sosial Kerajaan Sriwijaya. Karena letaknya yang strategis, perkembangan perdagangan internasional di Sriwijaya sangat baik. Dengan banyaknya pedagang yang singgah di Sriwijaya memungkinkan masyarakatnya berkomunikasi dengan mereka, sehingga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi masyarakat Sriwijaya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia.Perdagangan internasional ini juga membuat kecenderungan masyarakat menjadi terbuka akan berbagai pengaruh dan budaya asing, salah satunya India. Budaya India yang masuk berupa penggunaan nama-nama khas India, adat istiadat, dan juga agama Hindu-Buddha. I-tsing menerangkan bahwa banyak pendeta yang datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan menyalin kitab kitab suci agama Buddha. Guru besar yang sangat terkenal di massa itu adalah Sakyakirti yang mengarang buku Hastadandasastra.
            Kehidupan ekonomi Kerajaan Sriwijaya pada awalnya bertumpu pada bidang pertanian. Namun dikarenakan letaknya yang strategis, yaitu di persimpangan jalur perdagangan internasional, membuat hasil bumi menjadi modal utama untuk memulai kegiatan perdagangan dan pelayaran. Karena letak yang strategis pula, para pedagang China yang akan ke India bongkarmuat di Sriwijaya, dan begitu juga dengan pedagang India yang akan ke China. Dengan demikian pelabuhan Sriwijaya semakin ramai hingga Sriwijaya menjadi pusat perdagangan se-Asia Tenggara. Perairan di Laut Natuna, Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari raja-raja yang memerintah, wilayah kekuasaan, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.  
a. Raja yang memerintah (yang terkenal)
1) DapuntaHyang SriJayanasa
2) Balaputera Dewa
3) Sri Sanggarama Wijayatunggawarman
b. Wilayah kekuasaan
Setelah berhasil menguasai Palembang, ibu kota  Kerajaan Sriwijaya dipindahakan dari Muara Takus ke Palembang. Dari Palembang, Kerajaan Sriwijaya dengan mudah dapat menguasai daerah-daerah di sekitarnya seperti Pulau Bangka yang terletak di pertemuan jalan perdagangan internasional, Jambi Hulu yang terletak di tepi Sungai Batanghari dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara). Maka dalam abad ke-7 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai kunci-kunci jalan perdagangan yang penting seperti Selat Sunda, Selat Bangka, Selat Malaka, dan Laut Jawa bagian barat.
Pada abad ke-8 M, perluasan Kerajaan Sriwijaya ditujukan ke arah utara, yaitu menduduki Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Pendudukan pada daerah Semenanjung Malaya memiliki tujuan untuk menguasai daerah penghasil lada dan timah. Sedangkan pendudukan pada daerah Tanah Genting Kra memiliki tujuan untuk menguasai lintas jalur perdagangan antara Cina dan India. Tanah Genting Kra sering dipergunakan oleh para pedagang untuk menyeberang dari perairan Lautan Hindia ke Laut Cina Selatan, untuk menghindari persinggahan di pusat Kerajaan Sriwijaya.
Daerah lain yang menjadi kekuasaan Sriwijaya diantaranya Tulang-Bawang yang terletak di daerah Lampung dan daerah Kedah yang terletak di pantai barat Semenanjung Melayu untuk mengembangkan usaha perdagagan dengan India. Selain itu, diketahui pula berdasar berita dari China, Sriwijaya menggusur kerajaan Kaling agar dapat mengusai pantai utara Jawa sebab adalah jalur perdagangan yang penting.
Pada akhir abad ke-8 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara, baik yang melalui Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra. Dengan kekuasaan wilayah itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan laut terbesar di seluruh Asia Tenggara.
c. Hubungan dengan luar negeri
Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar wilayah Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti Kerajaan Pala atau Nalanda di Benggala. Raja Nalanda, Dewapala Dewa menghadiahi sebidang tanah untuk pembuatan asrama bagi pelajar dari nusantara yang ingin menjadi ‘dharma’ yang dibiayai oleh Balaputradewa.



    RUMUSAN MASALAH

1.      Siapa raja yang berperan dalam pertumbuhan kekuatan maritime Sriwijaya?
2.      Apa tujuan penaklukan wilayah bagi Sriwijaya?
3.      Bagaimana Sriwijaya mampu mengembangkan maritime?

  

    PEMBAHASAN

Kerajaan Maritim
Ciri-ciri kerajaan maritim:
·         Mempunyai struktur politik yang bersifat integratif, mengikat pulau dan daerah lain di sekitarnya ke dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih besar.
·         Memiliki armada laut yang tangguh, baik armada perang maupun armada dagang.
Kekuasaan untuk mengontrol kerajaan-kerajaan kecil oleh pusat kekuasaan/kerajaan yang lebih besar dapat berlangsung selama hubungan pusat-daerah saling memberikan keuntungan. Keuntungan bagi kekuasaan pusat yaitu pengakuan simbolik berupa kesetiaan dan memperoleh upeti berupa barang-barang mewah atau hasil-hasil yang dapat diperdagangkan. Sebaliknya kerajaan kecil memperoleh keuntungan berupa  adanya perlindungan dan prestise atas hubungan tersebut.
Keberhasilan dalam aktivitas perdagangan dapat memperluas kekuasaan. Kegiatan perdagangan di samping membuka kesempatan untuk memasarkan hasil-hasil dari daerahnya sendiri untuk dipertukarkan dengan barang kebutuhan yang diperlukannya, juga memberi pemasukan dari ongkos, sewa, upeti kepala kerajaan. Dengan menguasai kegiatan perdagangan di pelabuhan,kerajaan dapat memperoleh kejayaan. Untuk memperbesar kejayaannya, kerajaan-kerajaan maritime melakukan ekspansi atas wilayah yang lebih luas.
Sriwijaya : Kerajaan Maritim Pertama di Indonesia
Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang ibukotanya terletak di tepi air sehingga disebut kerajaan pantai, negara perniagaan dan Negara yang berkuasa di tepi laut. Penduduk Sriwijaya terpencar diluar ibukota atau tinggal di atas rakit-rakit yang beratapkan alang-alang. Jika sang raja keluar, ia naik perahu dengan diiringi orang-orang yang bertombak emas. Tentara kerajaan Sriwijaya sangat tangkas dalam peperangan, baik didarat maupun di laut, keberaniannya tidak ada tandingannya. Menurut Macintyre bahwa warga Negara Sriwijaya merupakan komunitas yang termiliterisir (militarized community).
Struktur kerajaan maritim Sriwijaya menurut Kenneth R.Hall :
1.      Raja Sriwijaya adalah seorang kepala suku Melayu atau datu yang mampu mengadakan aliansi dengan kepala-kepala suku lain di pedalaman dan menjadi terbesar di antara mereka. Hasil dari aliansi ini raja Sriwijaya memperoleh pasokan produk hasil hutan, hewan langka, dan emas yang sangat termashur- dari sini pulau Sumatra mendapat nama Suwarnabhumi. Sebagai imbalan para datu memperoleh komoditi dari negeri luar seperti India, Cina, dan negara-negara Asia Tenggara lain yang mendatangi pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Dari para datu dapat diminta dukungan tenaga prajurit atau bala bantuan perang.
2.      Raja Sriwijaya mampu untuk “menjinakkan” suku-suku laut dan pelaut-pelaut Melayu yang mengembara dan menguasai pantai timur pulau Sumatra dan Selat Malaka. Semula mereka adalah pengembara dan perompak, tetapi oleh penguasa Sriwijaya mereka dijadikan armada dagang dengan bendera kerajaan Sriwijaya yang penuh keagungan. Mereka memperoleh imbalan berupa pembagian keuntungan dagang atau hasil rampasan perang. Ini adalah modal awal kerajaan Sriwijaya yang telah mampu menggiring kapal-kapal niaga ke pelabuhan Sriwijaya.
Faktor utama penyebab kejayaan kerajaan Sriwijaya, yaitu kemampuannya untuk mengendalikan dan menguasai Selat Malaka, paling sedikit selama tujuh abad mempunyai arti penting dalam sejarah dan merupakan jalur perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa. Dengan kata lain bahawa selama masa kejayannya, Sriwijaya merupakan pusat perdagangan penting yang pertama di Selat Malaka , bahkan sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari raja-raja yang memerintah, wilayah kekuasaan, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.
Raja yang memerintah:
1) Dapunta Hyang SriJayanasa
Beliau adalah pendiri kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahannya, dia berhasil memperluas wilayah kekuasaan sampai wilayah Jambi dengan menduduki daerah Minangatamwan yang terletak di dekat jalur perhubungan pelayaran perdagangan di Selat Malaka. Sejak awal dia telah mencita-citakan agar Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.
2) Balaputera Dewa
Awalnya, Balaputra dewa adalah raja di Kerajaan Syailendra. Ketika terjadi perang saudara antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Akibatnya dia lari ke Kerajaan Sriwijaya, dimana Raja Dharma Setru (kakak dari ibu Raja Balaputra Dewa) tengah berkuasa. Karena dia tak mempunyai keturunan, dia mengangkat Balaputradewa sebagi raja. Masa pemerintahan Balaputradewa diperkirakan dimulai pada tahun 850 M. Sriwijaya mengalami perkembangan pesat dengan meingkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat. Pada masa pemerintahannya pula, Sriwijaya mengadakan hubungan dengan Kerajaan Chola dan Benggala (Nalanda) dalam bidang pengembangan agama Buddha, bahkan menjadi pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
        Politik ekspansi dilakukan Sriwijaya pada abad ke-7, yaitu pada tahun 690. hal ini dibuktikan pada prasati Kedukan Bukit (dekat Palembang) yang berangka tahun 608 M yang ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Melayu kuna. Arti prasati Kedukan Bukit yang berbahasa Melayu Kuna sebagai berikut:
            Kemakmuran! Keberuntungan! Pada tahun Saka 605, hari kesebelas paruh terang bulan Waisakha, Sri Baginda (Dapunta Hyang) naik kapal untuk mencri kesaktian. Hari ketujuh paruh terang Jyestha, raja membebaskan diri (.....). ia memimpin bala tentara yang terdiri dari dua puluh ribu (orang); pengikut (.....) sejumlah dua ratus orang menggunakan perahu, pengikut yang berjalan kaki sejumlah seribu tiga ratus dua belas orang tiga tiba di hadapan (raja), bersama-sama dengan sukacitanya. Hari kelima paruh terang bulan (.....), ringan, gembira, datang dan membuat negeri(.....) Sriwijaya, sakti,kaya (.....).
            Menurut Boechori prasasti ini digunakan untuk memperingati usaha penaklukan daerah sekitar Palembang oleh Dapunta Hyang dan pendirian ibukota baru yang kedua di tempat ini. Dari beberapa prasasti lainnya yang ditemukan juga menunjukkan bahwa Sriwijaya telah meluaskan wilayah kekuasaannya mulai dari daerah Melayu di sekitar Jambi sekarang sampai di pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan dalam tahun 686, serta usaha menaklukan pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Penaklukan pulau Bangka diduga erat berhubungan dengan penguasaan perdagangan dan pelayaran internasional di Selat Malaka. Dengan dikuasanya negara di sekitar Pulau Bangka, maka Sriwijaya sepenuhnya dapat menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan dari negara-negara Barat ke Cina. Sebaliknya, perahu-perahu asing terpaksa harus berlayar melalui Selat Malaka dan Selat Bangka yang dikuasai oleh Sriwijaya. Keuntungan Sriwijaya dari perahu asing berlimpah-limpah. Kecuali kentungan dari penarikan bea-cukai, Sriwijaya masih memperoleh keuntungan lain dari perdagangan. Dari berita yang ditulis I-tsing dapat diketahui bahwa kapal-kapal asing itu datang dari Kedah dan Melayu padawaktu-waktu tertentu. Mereka tinggal di kedua tempat itu selama menunggu datangnya angin baik (buritan). Selama tinggal di pelabuhan, kapal-kapal dagang itu berkesempatan membongkar dan memuat barang-barang dagangan. Sementara itu dari daerah Sriwijaya sendiri dihasilkan penyu, gading, emas, perak, kemeyan, kapur barus, damar, lada,dan lain-lain. Barang dagangan tersebut dibeli oleh pedagang asing atau ditukar dengan porselin, kain katun, dan kain sutera.
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya menggunakan politik laut yaitu dengan mewajibkan kapal-kapal untuk singgah di pelabuhannya. Politik Sriwijaya ini dikenal dengan menggunakan model “paksaan menimbun barang”. Di samping itu raja Sriwijaya juga mempunyai kapal-kapal sendiri. Dengan demikian maka harta benda raja serta kaum bangsawan berasal dari : perdagangan sendiri, bea-bea yang dipungut dari perdagangan melalui kerajaan, rampasan hasil peperangan, dan pembajakan laut.Pada abad ke-13 Sriwijaya masih cukup kuat sebagai kerajaan maritim. Hal ini dibuktikan dengan adanya buku “Chu-fan-chi” yang ditulis tahun1225 oleh Chau-ju-kua. Buku ini memceritakan bahwa di Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan kaya, pertama ialah Jawa dan yang kedua adalah Sriwijaya.
Sumber-sumber ekonomi kerajaan Sriwijaya berasal dari pelayaran dan perdagangan, menjadi semakin jelas bahwa kerajaan itu memang kerajaan maritim. Sedangkan dari politik, ekspansi Sriwijaya yang berhasil menguasai kerajaan-kerajaan atau kota-kota pelabuhan di sekitarnya juga semakin menunjukkan adanya kecenderungan itu. Pada sisi yang lain, kekuasaan Sriwijaya yang berlangsung cukup lama bisa dianggap sebagai proses integrasi secara ekonomi dan politik.
Perkembangan Budaya Maritim
·         Angkatan laut
Armada atau angkatan laut adalah salah satu kekuatan inti dalam kerajaan Maritim. Hal ini karena dengan angkatan laut yang kuat maka akan dapat menjamin stabilitas dan kelanggengan suatu kerajaan, begitu pula sebaliknya. Pada kerajaan Sriwijaya misalnya, kuatnya angkatan laut membuat terciptanya ketentraman perdagangan dalam masyarakat. Keberadaan angkatan laut pada kerajaan Sriwijaya digunakan untuk melindungi jalur perniagaan terhadap ancaman bajak laut yang berasal dari Cina, Malaya, bagian Nusantara lainnya, dan Filiphina.
Dalam struktur pemerintahan Sriwijaya, posos laksamana angkatan laut kerajaan langsung berada di bawah raja sebagai penguasa tertinggi. Laksamana angkatan laut merupakan pejabat kemiliteran yang sangat penting,kedudukan laksamana angkatan laut sejajar denga patih (mangkubumi). Tugas utamanya adalah menjaga keutuhan wilayah dan mejaga kepentingan-kepentingan Sriwijaya di bidang perdagangan. Angakatan laut Sriwijaya sering melakukan ekspedisi ke tempat-tempat yang jauh dan melakukan patroli keamanan di wilayahnya. Secara rutin angkatan laut Sriwijaya juga melakukan perjalanan jauh dan menjadikan daerah tak bertuan menjadi bagian dari Sriwijaya. Berkat bantuang angakatn laut ini terselenggara keamanan di Asia Tenggara. Dampak yang lain adalah kekuasaan Sriwijaya semakin luas dan sangat berwibawa di mata saingannya.
Kapal-kapal perang Sriwijaya dibuat dari kayu yang tua dan keras supaya tercipta angkatan laut yang kuat. Kapal-kapal itu dapat bergerak dengan layar, serta dapat pula didayung dengan cepat. Persenjataan kapal perang Sriwijaya adalah panah, tombak, parang dan pedang.
Semakin ramainya perdagangan membuat Sriwijaya harus menempatkan pangkalan disentral-sentral perdagangan seperti di Jambi, Kepulauan Riau, Semenanjung Melayu, dan pantai Sumatera Utara. Di pangkalan itu ditempatkan bebrapa kaal perang yang dilengkapi dengan senjata dan prajurit-prajurit.

    PENUTUP

Sriwijaya merupakan kerajaan terbesar sebelum Majapahit, wilayahnya hampir meliputi nusantara. Keberhasilan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah melalui aktivitas perdagangan dan berhasil memperluas kekuasaan. Letaknya yang berada ditepi laut banyak membuat para pedagang berlabuh. Selain perdagangan yang kuat, Sriwijaya juga memiliki armada laut yang sangat kuat. Dengan adanya armada laut ini Sriwijaya berhasil menjinakkan suku suku laut dan para pelaut yang awalnya adalah perompak hingga akhirnya dijadikan oleh Sriwijaya bagian dari armada laut mereka.
Sebagai sebuah kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya menggunakan politik laut yaitu mewajibkan kapal-kapal untuk singgah dipelabuhannya. Politil inilah yang dikenal dengan “paksaan menimbun barang”.  Dari politik inilah sebagian harta raja dan para bangsawan berasal. Sriwijaya dalam memperluas kekuasaannya juga melakukan ekspansi hingga ke pulau Jawa yang selalu menjadi pesaing dalam perdagangan dan pelayaran. Melalui ekspansi Sriwijaya dapat menguasai kerajaan-kerajaan kecil serta kota-kota pelabuhan hal ini tentu memperkuat Sriwijaya dan eksistensinya sebagai kerajaan maritim. Bahkan, ekspansi ini dibuktikan pada prasasti Kedukan Bukit di tahun 608 M yang berada di dekat Palembang.
Sriwijaya juga mengalami perkembangan budaya maritim yang pesat. Angkatan laut merupakan salah satu faktor pendorong budaya maritim berkembang di Sriwijaya.  Bahkan dalam struktur pemerintahannya, Sriwijaya mengangkat posos laksamana angkatan laut sebagai penguasa tertinggi di bawah raja. Berkat angkatan laut Sriwijaya inj juga keamanan laut Asia Tenggara terjamin.
Jadi, faktor utama Sriwijaya menjadi kerajaan maritim terbesar adalah kemampuannya dalam mengendalikan dan menguasai Selat Malaka yang merupakan jalur penting dan juga jalur perdagangan internasional. Melalui politik ekspansi juga Sriwijaya menguatkan kerajaannya untuk itu Sriwijaya tidak hanya menjadi kerajaan maritim terbesar di nusantara tapi bahkan menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.



DAFTAR PUSTAKA


1                    Suroyo, Djuliati A.M. dkk. 2007. Sejarah Maritim Indonesia 1. Semarang : Penerbit Jeda.

2                    Wolter, O.W. 2011. Kemaharajaan Maritim Sriwijaya & Perniagaan Dunia Abad III – Abad VII. Jakarta: Komunitas Bambu.

3                    Achadiyati,Y. (ed.). Sejarah Peradaban Manusia Zaman Sriwijaya. Jakarta : Gita Karya.

4                    Sartika Intaing Pradhani. 2017. Sejarah Hukum Maritim Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit Dalam Hukum Indonesia Kini. Lembaran Sejarah Vol. 13 No. 2 Tahun 2017.

5                    Soekmono, R. 1992. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia  Jilid II. Jakarta : Yayasan Kanisius.

6                    Kabib Sholeh. 2017. Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Sebagai Materi Ajar Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Historia Vol. 5 No. 2 Tahun 2017.

7                    Hamid, Abdurahman. 2013. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta: Ombak.


No comments:

Post a Comment

KEHIDUPAN AGAMA KERAJAAN KUTAI

KEHIDUPAN AGAMA KERAJAAN KUTAI  A.    PENDAHULUAN   Kutai merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia, yang muncul pada abad k...